Tak Sekadar Angkut Sampah, Kota Magelang Siap Uji Waste to Energi
|| Diskominsta
Kamis, 13 Agustus 2026

Pemerintah Kota Magelang membuka peluang kolaborasi
KOTA MAGELANG – Pemerintah Kota Magelang membuka peluang kolaborasi dalam pengembangan pengelolaan sampah melalui program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF).
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono dalam acara Sosialisasi Program Waste to Energy/Refuse Derived Fuel (RDF) dan Pengembangan Kolaborasi Pengelolaan Sampah, di ruang sidang lantai 2 Setda Kota Magelang, Kamis (13/8/2026).
Menurut Damar, pengelolaan sampah di Kota Magelang telah mencapai 95,7 persen. Meski demikian, masih terdapat sekitar 4,3 persen sampah yang menjadi pekerjaan rumah karena masih berpotensi dibakar maupun dibuang ke sungai.
Pemerintah Kota Magelang menargetkan pada akhir 2026 dapat mencapai kondisi zero waste.
"Penyelesaian persoalan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan, tetapi harus dimulai dari perubahan perilaku masyarakat di tingkat hulu," katanya.
Damar menjelaskan, penguatan di tingkat hulu menjadi fondasi. Edukasi pemilahan sampah perlu menjadi kebiasaan warga, sementara bank sampah, kampung mandiri sampah, TPS 3R, transfer depo, dan fasilitas pengolahan lainnya harus bekerja sebagai satu sistem, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Oleh karena itu, edukasi pemilahan dan pengelolaan sampah terus diperkuat melalui berbagai program, sementara pengelolaan di hilir membutuhkan dukungan teknologi dan kolaborasi.
Di sisi hilir, lanjutnya, Kota Magelang juga perlu memastikan sistem pengangkutan warga selaras dengan kapasitas pengolahan di TPST Regional.
Alokasi kapasitas TPST Regional disebut mencapai 80 ton per hari. Paradigma pengelolaan pun diarahkan dari sekadar “membuang” menjadi “mengolah dan mengurangi”.
"Persoalan sampah tidak lagi semata-mata dapat dilihat dari sisi untung dan rugi, melainkan sebagai persoalan lingkungan dan sosial yang membutuhkan kehadiran negara," tegasnya.
Damar juga menyampaikan kesiapan Kota Magelang untuk menjadi lokasi percontohan pengembangan teknologi pengelolaan sampah.
Dengan luas wilayah yang relatif kecil dan produksi sampah sekitar 90–100 ton per hari, Kota Magelang dinilai dapat menjadi tempat uji coba teknologi sebelum dikembangkan ke daerah lain.
“Kota Magelang siap menjadi pilot project-nya, siap menjadi laboratoriumnya,” tegasnya.
Melalui kolaborasi tersebut, Pemerintah Kota Magelang berharap pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi, sehingga volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat terus ditekan dan tercipta sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. (prokompimkotamgl)









